Sitemap

Buku Ini Membuat Temanku Mualaf

The Intellectual and Spiritual Hijrah of a Harlem Criminal: Malcolm X

14 min readJul 18, 2025

--

Press enter or click to view image in full size
Press enter or click to view image in full size
Photo 1 by Author | Photo 2 by Library of Congress on Unsplash

Sewaktu di Philly, aku berteman dengan seorang mahasiswa baru berkulit putih yang secara permukaan memang tampak American banget. Selain berambut pirang dan bermata biru, ia juga berasal dari Washington D.C., dan sewaktu high school menjadi quarterback di American Football. Kurang American apa? Lucunya, ia juga membatasi dietnya pada makanan halal saja, mengikuti kelas-kelas Islami dan lingkaran halaqah, dan mengenakan setelan jas lengkap setiap Jumatan— karena ialah seorang mualaf.

Menurutnya, salah satu faktor besar dalam perjalanannya menemukan Islam ialah buku otobiografi dari seorang tokoh Islam Amerika Serikat bernama Malcolm X. Kini, saatnya kalian untuk mengetahui cerita fenomenal ini juga.

David

Press enter or click to view image in full size
David, Red, and Mouctar

Temanku bernama David. Karena senasib sebagai ‘orang baru’ di UPenn, kami cepat akrab. Sebelum kenal dengan Muslim Student Association, kami bahkan pernah membuat grup WhatsApp bersama beberapa orang baru lain untuk janjian shalat berjamaah di sudut-sudut kampus. Lama-kelamaan, intelektualitas beserta semangat dakwahnya membuat David menjadi penggerak utama dakwah stand di kampus.

David baru masuk Islam beberapa tahun sebelum masuk kuliah. Pada awalnya, ia mengira bahwa Islam hanyalah agama untuk ‘orang-orang Timur’ yang takkan cocok baginya dan lifestyle Amerika. Namun, pada usia 14 tahun, ia mulai membaca otobiografi Malcolm X dan terpukau dengan deskripsinya tentang haji.

One Man under One God.

Dari cerita tersebut, barulah ia sadar akan universalnya Islam — yang melampaui ras, budaya, dan nasionalitas. Ia terkesan sekali dengan konsep perbedaan-perbedaan duniawi yang luntur semua di hadapan Pencipta yang Tunggal. Lalu, hati kecilnya berkata bahwa agama ini tidak hanya untuk ‘orang-orang Timur’, tetapi cocok juga untuk dirinya sebagai a white man from America, juga untuk seluruh umat manusia.

Setelah pembelajaran mandiri, ia pun masuk Islam di tengah menempuh pendidikan di SMA. Kini, David adalah CEO sebuah perusahaan produksi audiobook Islami, dan bahkan seorang ‘selebtwit’ yang vokal mengenai permasalahan Islam kontemporer di Barat.

Sebetulnya, momen haji dalam cerita Malcolm X menjadi salah satu klimaks dengan payoff paling satisfying kalau sudah paham betul jerih payah sang tokoh tituler menuju ke sana — terlebih jika kita baca kata-katanya langsung. Menurut David, selain momen haji tersebut, unsur transformasi dalam journey Malcolm X itu begitu mengesankan, dan layak untuk diketahui oleh siapapun yang ingin paham Amerika, permasalahan ras, gerakan sosial/civil rights, dan gerakan Islam.

Malcolm

Press enter or click to view image in full size

Dilahirkan dengan nama Malcolm Little di kota Omaha, kehidupan Malcolm begitu pekat dengan ketegangan rasial. Bapaknya ialah seorang pendeta dalam gereja kulit hitam dan juga aktivis gerakan advokasi hak ras Afrika-Amerika yang militan. Ia dibunuh oleh anggota organisasi ekstremis supremasi kulit putih bernama KKK saat Malcolm masih berusia enam tahun. Setelahnya, pemerintah lokal memisah-misahkan anggota keluarganya untuk alasan ‘proteksi sosial’, dan Malcolm terpaksa cepat mendewasa.

Sejak kecil, Malcolm terkenal sangat blak-blakan. Meskipun ia nakal, ia sadar penuh bahwa ia nakal dan tak berusaha menutup-nutupinya — seperti saat ia mencuri demi bisa makan. Ia jujur-jujur saja dengan keadaannya dan kelakuannya. Selain itu, kemampuan Malcolm untuk mengobrol dengan siapa saja membuatnya disukai banyak orang. Ini menjadikannya terpilih sebagai ketua kelas — bahkan di saat teman-teman lainnya berkulit putih.

Meskipun demikian, karena ia berkulit hitam, kehidupan medioker seolah sudah dijanjikan untuknya. Saat ditanya cita-citanya oleh guru, ia menjawab ingin menjadi seorang pengacara. Gurunya mengisyaratkan bahwa itu tidak mungkin, dan menyarankannya untuk mempertimbangkan karir sebagai tukang kayu saja — bukan karena bermaksud jahat atau diskriminatori, tetapi memang beegitu realistisnya. Hidup seperti itulah yang menjadi realita untuk ras kulit hitam di Amerika Serikat, yang baru saja melarang perbudakan kurang dari seabad sebelum lahirnya Malcolm. Pada saat itu, 22 juta manusia tertahan potensi utuhnya sebagai manusia, hanya karena berkulit hitam. Dan Malcolm benci itu.

Selanjutnya, hidup Malcolm bertransformasi ketika ia lulus sekolah dan pindah ke kota besar — Boston, lalu New York City. Muak dengan sesama kulit hitam ‘kelas menengah’ yang begitu terobsesi untuk lemah-lembut agar ‘berintegrasi’ menjadi warga kelas dua di white man’s America, Malcolm lebih memilih bergaul dengan sesama kulit hitam — karena ia percaya bahwa rasnya tidak akan pernah benar-benar diterima.

Di dunia akar rumput ini, Malcolm menjadi ahli berbagai jenis maksiat hanya untuk bisa menyambung hidup. Dalam otobiografinya, Malcolm dengan begitu detail menceritakan tentang masanya menjadi muncikari (perantara pekerja seks komersial), pengedar narkoba, bandar judi, sampai kepala kelompok pencuri— hingga pembaca betul-betul agak mengerti mengapa seseorang bisa terjatuh ke dalam jurang itu dan tak keluar-keluar. Terlebih, ia bukan hanya seorang kriminal, melainkan kriminal di antara kriminal. Ia begitu terkenal karena ia yang paling blak-blakan, paling ganas, dan paling gila di antara pemuda Harlem lainnya.

Pada akhirnya, salah satu skema pencuriannya terungkap, lalu kelompok Malcolm (tiga pria berkulit hitam dan dua wanita berkulit putih selingkuhan) ditangkap dan dipenjara. Untuk kriminalitas yang persis sama, seorang berkulit putih defaultnya akan dipenjarakan dua tahun. Malcolm divonis 8 sampai 10 tahun.

Di penjara, Malcolm meraung-raung dan meledak-meledak. Seringkali ia berteriak menyalahkan Tuhan, sampai-sampai ia dipanggil ‘Satan’ oleh napi lain. Lagi-lagi, ia bukan hanya seorang napi, melainkan setan di antara napi. Sudah segitunya. Seolah menjadi contoh yang paling mengafirmasi pandangan sang kulit putih terhadap perilaku buruk sang kulit hitam. Seolah tak terselamatkan.

But we know that’s not the case.

Malcolm X

Press enter or click to view image in full size

Pada suatu hari, adik Malcolm mengunjungi penjara membawakan satu pesan: terdapat agama bagi para kulit hitam, yang meyakini bahwa the white man is the devil. Adik Malcolm menjelaskan bahwa agama ini bernama Islam, dan dipimpin oleh seorang nabi bernama Elijah Muhammad di Chicago.

The white man is the devil.

Semakin direnungkan bersama pengalaman hidupnya sendiri, Malcolm semakin meyakini kebenarannya. Dari kematian ayahnya, pemecahan keluarganya, penolakan cita-citanya, kelenggangannya dalam keterpurukan kehidupan kriminal, pemenjaraannya— semua disebabkan oleh sang kulit putih. Mungkin ia betul-betul adalah setan.

Dengan begitu, Malcolm mulai surat-menyurat dengan Elijah Muhammad ini, yang menjadi pemimpin dan ‘nabi’ dari memimpin gerakan keagamaan dan supremasi ras kulit hitam bernama Nation of Islam yang berisikan anggota yang disebut Black Muslims. Sebagai pemeluk baru dari agama ini, Malcolm diminta untuk berhenti makan babi, merokok, dan meminum alkohol.

Dalam ajaran Nation of Islam, ras kulit hitam dipercaya sebagai ras asli manusia yang membangun kerajaan-kerajaan yang agung nan sejahtera di masa lampau. Lalu, seorang ilmuwan bernama Yacoub menjadi marah ke Tuhan dan menciptakan setan berupa ras kulit putih, yang lalu membesar dan mensubjugasi seluruh ras lain di dunia dalam orde kezaliman. Mereka tidak percaya pada surga dan neraka, tetapi percaya bahwa dunia ini sendiri adalah surga dan neraka — surga untuk para setan kulit putih yang menciptakan sebuah neraka untuk seluruh ras lain. Sejarah ini dipercaya telah disembunyikan dengan sengaja dari para ras kulit hitam di Amerika, agar mereka bisa tetap dikuasai oleh ras kulit putih. Dengan begitu, tujuan Nation of Islam adalah untuk merebut kembali martabat ras kulit hitam dan ingin mendeklarasikan negara yang terpisah.

Setelah mempelajari hal ini, yang begitu masuk akal baginya, Malcolm menjadi begitu penasaran dengan sejarah dunia — karena ternyata kegemilangan dari Afrika dan kerajaan-kerajaan besarnya benar-benar disembunyikan oleh setan itu — sehingga menghabiskan hari-harinya dengan buku koleksi penjara. Ia membaca hingga malam hari setiap harinya, sampai-sampai harus menggunakan kacamata. Ia pun melibatkan diri dalam klub debat penjara — semuanya dalam rangka melatih dirinya agar bisa mengungkapkan kebenaran dan menyelamatkan saudara satu rasnya.

Setelah keluar dari penjara, Malcolm dengan cepat menaiki tangga karir Nation of Islam. Sebagai anggota Nation, ia menghilangkan nama akhirnya “Little”, yang dipercaya pastinya merupakan warisan dari pemilik budak berkulit putih yang dahulu menzalimi keluarganya. Anggota Nation percaya bahwa tidak ada orang ras kulit hitam di Amerika yang tahu asal muasalnya, juga nama aslinya. Mereka menggantikan nama-nama penjajah dan pemerkosa kulit putih itu dengan coretan — X.

Lahirlah Malcolm X.

Dengan intelektualitasnya hasil bertahun-tahun membaca buku dan berdebat, juga keblakblakannya dan militansinya, Malcolm dengan cepat menjadi perwajahan Nation of Islam. Karena sibuk mengadakan rally untuk ‘berdakwah’ dan diundang ke mana-mana, ia dikenal di seluruh Amerika sebagai the angry black man, juga satu-satunya orang di Amerika yang dapat memulai atau menghentikan sebuah kerusuhan berisikan black people. Begitu besar pengaruhnya di akar rumput. Sebenarnya, ia hanya menganggap ini tugasnya sebagai tangan kanan ‘nabi’-nya — Elijah.

Ia begitu percaya dengan narasi Nation of Islam tidak hanya karena pengalaman hidupnya sendiri mengafirmasi ke-setan-an kulit putih, tetapi karena agama ini begitu nyata hasilnya — mengangkatnya dari lembah maksiat hingga ke titik disiplin. Nation of Islam mengajarkan anggota-anggotanya untuk bersih dari segala bentuk adiksi, juga menjadikan mereka pekerja-pekerja dan pengusaha yang berdikari. Sebagai seorang yang paham betul dengan mentalitas seorang ahli maksiat dan bagaimana perihnya kehidupan di akar rumput, Malcolm menjadi dai yang amat efektif. Ia begitu semangat membangun masjid baru dan menjaring anggota baru — mentransformasi kehidupan mereka selamanya.

Press enter or click to view image in full size
cuplikan otobiografi yang menceritakan proses menyembuhkan anggota baru dari adiksi

Pada tahun 1960-an, di puncak ketenarannya, Malcolm X diselamatkan oleh Allah.

Beberapa sekretaris pribadi dari sang ‘nabi’ Elijah Muhammad mengakui ke Malcolm bahwa mereka telah berzina dengan ‘nabi’-nya — hal yang amat sangat dikecam dalam kepercayaan Nation of Islam. Malcolm tidak bisa berdamai dengan kemunafikan ini, terlebih ketika suaranya semakin dibungkam karena Elijah Muhammad mulai cemburu dengan ketenarannya. Setelah satu pernyataan blunder yang ia buat di media, Malcolm dilarang untuk bicara di publik— hal yang membuatnya yakin bahwa Nation of Islam sudah mulai menentangnya. Seorang informan pun mendatanginya dengan informasi bahwa ia sudah ditargetkan untuk dibunuh — karena Malcolm sang orator berapi-api pasti akan bisa menggalang kekuatan untuk kembali menghancurkan sang sekte sesat Nation of Islam jika ia dibiar hidup-hidup.

Dengan begitu, ia tak punya lagi tempat lagi untuk bernaung.

Selain satu.

Allah.

Malcolm X lalu berangkat untuk haji.

el-Hajj Malik el-Shabazz

Press enter or click to view image in full size

Ironisnya, Nation of Islam tidak betul-betul mengajarkan hal-hal basic dalam fiqih Islam. Malcolm X datang ke Jeddah dalam keadaan tidak tahu cara salat, sebab Elijah Muhammad mengajarkannya sebagai doa dalam bahasa Inggris dan tanpa gerakan-gerakan khasnya. Ini menjadikannya dicurigai sebagai antek asing dan bukan muslim sejati. Malcolm X diharuskan untuk mengikuti sidang untuk menilai keislamannya sebelum diperbolehkan berangkat haji.

Inilah titik transformasi sang orator.

Di titik ia seolah memulai dari nol kembali — tanpa uang dan diasingkan oleh organisasi yang sudah ia berikan seluruh energinya — di tempat asing dan dikelilingi beragam manusia dengan bahasa-bahasa asing, Malcolm menemukan keanehan. Orang di sekelilingnya, yang sebetulnya akan dianggap berkulit putih jika di Amerika, sama sekali tidak menunjukkan aura superioritas apapun terhadap ras lain. Seolah ‘kesetanan’ tak pernah ada padanya sama sekali.

Justru, orang-orang Eropa dan Arab dan Asia yang terlihat putih-putih saja saling mengajak makan semua orang di atas karpet, menolong Malcolm yang kebingungan, dan bahkan mengajarkannya tatacara salat. Melalui berbagai kebetulan, Malcolm pun ‘diselamatkan’ dari keadaan terdampar di bandara sambil menunggu jadwal sidang oleh orang-orang yang sebetulnya bisa saja diklasifikasikan sebagai orang berkulit putih di Amerika. Mereka bahkan menjamunya, memberikannya apartemen mewah, dan mengajarkannya fundamental keislaman — tanpa berharap imbal apapun. Untuk pertama kalinya, Malcolm merasa seolah rasnya tidak pernah menjadi unsur sama sekali dalam perilaku mereka. Ia dihormati dan dilayani selayaknya manusia lain. Begitu berbeda dengan realitanya di Amerika.

Tak lama kemudian, Malcolm yang semangat belajar sudah menghafal surat-surat pendek dan tatacara ibadah yang fundamental. Ia lulus sidang untuk haji. Sang Mufti yang menyidangnya bahkan memberikannya dua buah buku dan mendoakannya agar ia bisa jadi dai yang sukses di Amerika. Lagi-lagi, di setiap sudut, Malcolm menemukan kebaikan ‘sang kulit putih’.

Selama berhaji, Malcolm X mendapati dunia yang selama ini tak pernah ia bayangkan — dunia yang benar-benar menegasikan warna kulit. Di tengah lautan manusia yang berpakaian seragam ihram, ia menyaksikan umat manusia dari seluruh dunia — berkulit hitam, putih, coklat, kuning — berdiri sejajar dalam sujud kepada Tuhan yang sama.

Ia menulis dalam suratnya dari Mekkah:

There were tens of thousands of pilgrims, from all over the world. They were of all colors, from blue-eyed blondes to black-skinned Africans. But we were all participating in the same ritual, displaying a spirit of unity and brotherhood that my experiences in America had led me to believe never could exist between the white and non-white.

America needs to understand Islam, because this is the one religion that erases from its society the race problem. Throughout my travels in the Muslim world, I have met, talked to, and even eaten with people who in America would have been considered white — but the white attitude was removed from their minds by the religion of Islam. I have never before seen sincere and true brotherhood practiced by all colors together, irrespective of their color.

You may be shocked by these words coming from me. But on this pilgrimage, what I have seen, and experienced, has forced me to rearrange much of my thought-patterns previously held, and to toss aside some of my previous conclusions. This was not too difficult for me. Despite my firm convictions, I have always been a man who tries to face facts, and to accept the reality of life as new experience and new knowledge unfolds it. I have always kept an open mind, which is necessary to the flexibility that must go hand in hand with every form of intelligent search for truth.

During the past eleven days here in the Muslim world, I have eaten from the same plate, drunk from the same glass, and slept on the same rug — while praying to the same God — with fellow Muslims, whose eyes were the bluest of blue, whose hair was the blondest of blond, and whose skin was the whitest of white. And in the words and in the deeds of the white Muslims, I felt the same sincerity that I felt among the black African Muslims of Nigeria, Sudan and Ghana.

We were truly all the same (brothers) — because their belief in one God had removed the white from their minds, the white from their behavior, and the white from their attitude.

I could see from this, that perhaps if white Americans could accept the Oneness of God, then perhaps, too, they could accept in reality the Oneness of Man — and cease to measure, and hinder, and harm others in terms of their ‘differences’ in color.

Malcolm terisak. Ia, yang selama bertahun-tahun memelihara bara kebencian sebagai realita satu-satunya terhadap kezaliman sistemik kulit putih Amerika, kini menyaksikan dengan matanya sendiri bahwa tidak semua kulit putih itu setan. Yang setan adalah sistem penindasan dan ketidaksetaraan yang terpelihara — bukan rasnya. Ia menyadari bahwa Islam sejati, Islam ortodoks yang diajarkan dan dipraktikkan di Timur, adalah agama yang menjunjung tinggi persaudaraan dan keadilan sejati, bukan Islam yang ditunggangi namanya menjadi karikatur berupa sekte Nation of Islam.

Dalam haji itu, ia melihat Islam betul-betul sebagai equalizer dan jalan hidup universal. Ini membawanya kepada kunjungan ke berbagai negara Afrika dan Timur Tengah — dari Mesir ke Nigeria ke Ghana, dan sebagainya — diterima dan dihormati layaknya kepala negara. Semakin lama ia bepergian, semakin berubah juga sang juru bicara supremasi ras kulit hitam ini menjadi seorang aktivis global anti-penindasan dalam bentuk apa pun. Ia menyaksikan bagaimana pemimpin-pemimpin di Afrika begitu bersimpati terhadap penderitaan kulit hitam di Amerika yang ia ceritakan, lalu bertekad membangun jaringan global Pan-African untuk memperjuangkan hak asasi orang kulit hitam Amerika melalui jalur internasional. Dalam perjalanan ini, ia gunakan nama baru, El-Hajj Malik El-Shabazz.

Malcolm X adalah orang yang baru. Ia kembali ke Amerika dari Mekkah dan segera mengumumkan pembaharuan prinsip-prinsipnya. Sebagai kepala dari organisasi baru, Muslim Mosque, Inc. dan Organization of Afro-American Unity, yang mendasarkan perjuangan rasial pada prinsip-prinsip Islam ortodoks dan solidaritas internasional, ia diundang ke berbagai kesempatan bicara. Ia gunakan kesempatan ini di universitas, di wawancara TV, dan di surat kabar untuk mendakwahkan semangat baru keislaman dan internasionalisme yang ia rasa begitu diperlukan oleh sang kulit hitam.

Rupanya, Malcolm X yang berwujud baru ini semakin dianggap berbahaya oleh Nation of Islam. Karena membawakan kebaruan dengan rasa yang begitu berbeda dari biasanya dan juga karena vokal menyuarakan kesesatan Elijah Muhammad serta Nation of Islam, Malcolm membawakan instabilitas ke tubuh gerakan-gerakan ras kulit hitam yang sudah ada.

Pada tanggal 21 Februari 1965, dalam sebuah acara ceramah di Harlem, New York City, Malcolm ditembak mati oleh tiga pria atas perintah Nation of Islam. Ia meninggal di tengah kegiatan dakwah rutin yang begitu ia cintai, di jantung umat yang mencintainya, hanya satu tahun setelah melihat cahaya kebenaran di Mekah.

Jelas, warisannya tidak mati.

Refleksi

Press enter or click to view image in full size

Minggu lalu adalah kali keduaku membaca buku ini. Aku menamatkannya untuk pertama kali di awal pandemi, lalu tak tamat membacanya saat membawanya ke Amerika, dan akhirnya memutuskan untuk membacanya dari awal selama perjalanan kontemplatif ke Malaysia dan Singapura. Dengan banyaknya waktu senggang, buku ini dapat kuselesaikan tanpa terburu-buru — dan entah mengapa terasa jauh lebih emosional dan ber-ibrah dari yang kuingat.

Aku merasa semakin paham mengapa kisah Malcolm menyentuh hati banyak orang, termasuk hatiku. Kisah Malcolm adalah kisah tentang transformasi. Bedanya dengan orang biasa, Malcolm memeluk setiap transformasi dengan kejujuran dan totalitas yang tak tertandingi. Ia adalah pembelajar yang totalitas, lalu kriminal yang totalitas, lalu napi yang totalitas, lalu pembaca yang totalitas, lalu tangan kanan yang totalitas, lalu akhirnya muslim yang totalitas.

Bagiku, yang paling dahsyat ialah peralihannya dari seorang pendendam menjadi seorang pemaaf — dari kebencian ke cinta ilahi. Pendendam ini tak sepenuhnya hilang dengan transformasi pertamanya dari kriminal di jurang maksiat menjadi tangan kanan Nation yang militan nan disiplin, tetapi justru luntur seketika dengan kunjungan ke Baitullah. Aku sendiri menangis berkali-kali dalam bab yang menceritakan haji, juga bab-bab setelahnya, hingga epilog yang menceritakan pembunuhannya. Yang terpatri dalam benakku: kedahsyatan hijrah, kedahsyatan umat, kedahsyatan pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang berusaha.

Sepanjang membaca, aku selalu mendapat kesan bahwa Malcolm X adalah tipe orang seperti Umar radhiyallahu ‘anh*: firasatnya kuat, semangatnya tak terbendung, dan kehadirannya seperti badai. Masa lalunya juga begitu berkebalikan dengan puncak eksistensi duniawinya. Seperti Umar radhiyallahu ‘anh, ketika kebenaran menghampirinya, Malcolm bersujud, dan berubah menjadi alat kekuatan Allah. (*Tentu tak akan bisa menyamai sahabat, tapi tipe karakternya cukup paralel)

Dalam kisahnya, menjadi masuk akal sekali mengapa suatu paham seperti Nation of Islam yang dipimpin oleh orang karismatik yang mengaku-ngaku nabi bisa begitu cepat diterima di hati Malcolm X dan banyak black Muslims lainnya. Jika seluruh hidupmu mengafirmasi bahwa segala derita berasal dari the white man, lalu ada gerakan yang terbukti mampu mengangkat martabatmu kembali, tentu sangat menarik. Jujur, Malcolm benar ketika ia mengatakan bahwa pembiaran aliran sesat macam NOI adalah kesalahan kita juga — umat Islam Timur — yang gagal memperkenalkan Islam yang sebenarnya kepada mereka. Nilai-nilai dari haji yang mengakibatkan hijrahnya Malcolm X seharusnya senantiasa tercerminkan oleh seluruh tubuh umat.

Sejujurnya, di Amerika aku pernah bertemu orang-orang bekas NOI yang sudah hijrah, tetapi masih saja penuh dendam terhadap sang kulit putih. Mereka adalah orang-orang kulit hitam Amerika yang begitu konspiratif dalam cara berpikir mereka, begitu yakin bahwa seluruh dunia adalah tipuan dari white man. Meski prihatin, aku tak lagi melihat mereka sebagai orang yang “salah.” Mereka adalah orang-orang yang jiwanya telah dibentuk oleh luka kolektif dan narasi pengkhianatan turun-temurun, sehingga mereka mencari pijakan. Kebetulan saja banyak oknum yang dengan senang hati memberikan mereka pijakan itu — memanfaatkan mereka. Dengan interaksi-interaksi tersebut, buku otobiografi ini menjadi semakin kaya bagiku.

Selain itu, karena aku sedang membaca buku ini di Malaysia, aku semakin yakin akan value Islam sebagai penyatu umat manusia. Aku melihat orang Tiongkok, Melayu, India, dan Arab saling menyapa dengan assalamualaikum dan mengisi saf masjid, akrab menyalamiku atas dasar iman yang satu. One Man under One God.

Cerita Malcolm X sang aktivis berapi-api mengingatkanku akan ujian besar bagi para hamba yang dianugerahi kematangan intelek, spirit, dan wibawa — semua hal itu disertai dengan tanggung jawab yang tak kecil dan konsekuensi duniawi yang menakutkan.

Terbesit kembali mimpi besarku dan filsafat hidupku. Melihat cerita Malcolm dan David, aku kembali mantap berkeinginan agar cukup berilmu untuk melawan para demagog yang keliru. Cukup fasih agar suaraku menenggelamkan suara mereka. Cukup kuat agar aku bisa berdiri tegak di depan ketidakadilan dan menyatakan bahwa aku berkomitmen memeranginya.

Press enter or click to view image in full size
kunjunganku ke malcolm x park

--

--

Rakean Radya Al Barra
Rakean Radya Al Barra

Written by Rakean Radya Al Barra

menuju murni; berbagi tiap jumat pukul 7 WIB