Sitemap

Expanse Era: Refleksi Q3 2025

Who Knows Where Life Will Take You?

11 min readOct 3, 2025

--

Press enter or click to view image in full size
Photo by Michael on Unsplash

Traversing Terrain: Messy Growth, Questionable Flourish

Sepanjang perjalananku mencatat refleksi quarterly (sejak Q1 2023), aku temukan bahwa Q3 biasanya agak istimewa. Pasalnya, peralihan tahun pendidikan biasanya terdapat pada bulan-bulan ini. Artinya, aku bisa lebih leluasa mengatur segala gerak-gerikku. Dengan begitu, untuk dua Q3 terakhir, aku dari agak jauh-jauh hari mendesain secara khusus sebuah tema pertumbuhan untuknya.

Q3 2023 kunamakan Growth Era, ditandai dengan Juli sebagai bulan set-up, Agustus sebagai bulan transisi, dan September sebagai bulan prototipe. Tujuan high-level telah kutulis dengan rapi di sebuah bullet journal dan aku betul-betul menjadikannya semacam rancangan ideal untuk mengarahkan hari-hariku. Nyatanya, akibat eksekusi-dari-perencanaan yang matang triwulan tersebut cukup membekas, dan aku tuliskan sedikit-banyak tentangnya di Medium.

Selanjutnya, mungkin karena tak seleluasa masa-masa liburan, aku jadi agak freestyle lagi dalam menjalankan hidup hahah, lalu gaya refleksiku menjadi lebih bebas dan juga stylistic. (See Q4'23 dan Q1'24)

Lalu, seingatku sometime around there, temanku Faliha mengomentari kalau ia terkesan secara spesifik dengan refleksi Q3'23-ku dan telah menjadikannya inspirasi untuk refleksi-refleksinya sendiri, sehingga aku putuskan sepertinya berguna juga untuk mem-benchmarking si template tulisan tersebut sebagai precedent atau standar bagiku sendiri di quarter-quarter berikutnya hahaha. Refleksi Q2'24 lalu menggabungkan tools ala Q3'23 dengan stylisticness tambahan. Itulah yang lalu menjadi tradisi triwulanan untukku hahaha.

Dengan segala cerita latar belakang itu, Q3 2024 kunamakan Flourish Era, melanjutkan tema pertumbuhan menjadi pemekaran. Kebetulan, aku sedang hobi merawat tanaman hias dan juga sedang terkesima dengan definisi kebahagiaan dalam artian sa’adah atau eudaimonia (human flourishing), sehingga aku tuliskan sebuah refleksi passionate dan penuh cocoklogi untuk menggambarkan diriku yang lebih selow pada triwulan tersebut.

Bagaimana dengan Q3 kali ini?

Luar biasa berbeda, tentunya hahahaha :”D

Kali ini, dengan Q3 pertama sejak sangat lama yang tak memuat semacam ‘libur sekolah’, aku harus berkutat dengan berbagai transisi lintas dimensi: fisik, intelektual, status pekerjaan, spiritual, emosional. Itu pun berangkat dari Q2 dengan ‘spirit zaman’ yang penuh ketidakpastian — hal yang mengakibatkan very little time dan very little knowledge untuk planning serapi dan se-ambis dua tahun lalu. Waktuku dan ruang pikirku pun tak seleluasa itu untuk bisa seintrospektif dan se-artsy tahun lalu.

Q3 2025 benar-benar berbeda. Saat mencoba berefleksikannya, ia membuatku mempertanyakan segala pertumbuhan, lalu terkadang begitu heran akan berantakannya wujud pemekaran. Dunia seakan-akan untuk pertama kalinya membentang seluas-luasnya untukku, lalu melempariku dengan segala elemennya guna menjadikanku nakhoda yang lebih piawai. Maka ketika kurenungkan judul dari triwulan ini (kini karena chaos diberi judul belakangan ketimbang direncana sejak awal), aku hanya terpikir akan duniaku yang meluas — dan aku yang harus meluas bersamanya.

So this is my messy, questionable, but always honest Expanse Era.

Angin

Press enter or click to view image in full size
Photo by Khamkéo on Unsplash

Setelah mengunjungi ulang refleksiku di awal tahun lalu, aku temukan bahwa aku relate dengan cuplikan ini:

Semester ini di atas kertas seharusnya menjadi semester terbebasku, dengan sedikit SKS dan banyak potensi waktu berkarya. Yang kulakukan lebih terasa seperti mengikuti saja gerak angin mau ke mana, entah itu sesuai Tujuan atau belum tentu juga.

Dan bukannya kurang berusaha juga. Tapi usahaku rasanya seperti mendayung keras-keras sendiri di perahu layar yang ujung-ujungnya mengikuti angin. Perairan tenang? Dayung. Badai? Dayung. Mau nabrak terumbu karang? Dayung ae. Usahanya tak betul-betul menghasilkan, ataupun memanfaatkan kebebasan yang ada. Aku belum bisa mengendalikan angin untuk membawaku ke apa yang kucari.

Setelah melewati Q3 ini, aku rasa ada baiknya tidak terlalu besar kepala dengan obsesi untuk mengendalikan. Lagian, memangnya iya, angin bisa dikendalikan? Aku bukan Aang Suraang the Last Airbender. Aku Rakean dengan nenek moyang seorang pelaut. Memasang kain pada perahu dan mengatur sudut-sudutnya bukan dalam rangka mengendalikan, melainkan menyesuaikan. Pelaut tidak bisa memilih angin, tetapi bisa membacanya, lalu memilih bagaimana menanggapinya sebaik-baiknya.

Aku semakin merasa bahwa membaca angin menjadi penting untuk menjinakkan ketidakpastian, terutama dalam masa-masa ini. Lantas, ada angin tailwind yang mendorong dan membuatku melaju, ada angin headwind yang menahan dan membuatku menunduk, lalu ada juga angin tipu-tipu yang berubah-berubah arah dan membuatku pusing hahah. Sebelum bereaksi, kita harus membacanya dengan tepat, agar tak kelelahan mengatur-ngatur layar secara tak efisien. Kalau kata mentorku Kak Roy:

Press enter or click to view image in full size
aku si pelaut belajar jadi earthbender

Dalam seperempat tahun ini, banyak “firsts” yang datang seperti angin: tiba-tiba, tak selalu terprediksi, tapi tetap menggerakkan. Beberapa bisa kutunggangi, tetapi beberapa mungkin justru memaksa menyeret. Terlepas dari itu semua, selalu berharga bagiku untuk mengulas ulang para ‘firsts’ agar aku humbled dan bersyukur dengan segala tiupan alam yang Allah hadirkan untukku. Pertanyaannya selalu sama — apakah dengan ikhtiarku aku bisa menunggangi angin tersebut? Atau justru terseret?

Firsts

Who knows where life will take you? Siapa tahu ke mana hidup akan membawamu? Judul album galaw-reflektif terbaru Reality Club begitu relate denganku di quarter ini karena semakin dilihat aku semakin kaget dengan beragam takdir yang menjadi rezekiku, terutama beberapa perjalanan panjang.

Bulan Juli diawali dengan pertama kalinya aku solo trip keluar negeri dalam durasi yang lama dengan uang sendiri. Karena biasanya solo trip-ku paling banter satu weekend atau satu pekan, ini juga pertama kalinya aku harus menyusun segala itinerary dan logistik pada skala seperti ini, dan pertama kalinya aku begitu dedicated dalam berkonsultasi (MVP temanku Allan) untuk merancang rencana jalan-jalan. Maka terbanglah aku ke Malaysia dan Singapura selama total 11 hari, which has so many firsts on its own that I can’t do them all justice.

Ia pertama kalinya aku ke Melaka sang kota wisata pinggir pantai, pertama kalinya mendatangi surau-surau Malaysia, pertama kalinya dicukur oleh abang-abang Melayu, pertama kalinya kebingungan dengan sistem transpor publik antarkota dan dalam kota di Malaysia, pertama kalinya terheran-heran dengan kemegahan istana dan masjid di Putrajaya (juga kemegahan nasi kandar di kantin salah satu kantornya), pertama kalinya 5k di KLCC, pertama kalinya sarapan di kopitiam otentik, pertama kalinya terpukau dengan murahnya harga buku di BookXcess, pertama kalinya makan kuliner India banana leaf dan nasi lemak Village Park, pertama kalinya hampir nyasar di hutan Selangor demi mencari curug, pertama kalinya nongkrong di indie bookstore sampai tutup, pertama kalinya bosan dengan kebun sawit selama perjalanan darat panjang dari KL ke SG, pertama kalinya menghadiri wisuda di NUS (congrads Arsyad!), pertama kalinya menonton air show pesawat di Marina Bay, pertama kalinya desak-desakan demi makan sate di Lau Pa Sat, pertama kalinya tidur di taman Jewel Rain Vortex Changi, dan pertama kalinya mencoba Oatside Matcha (kok gaada di indo sih).

Juli lalu dilanjutkan pertama kalinya jadi bahan hoaks di Facebook (apparently, aku mengurus 13 anak yatim dengan upah ngarit), pertama kalinya menyengaja nonton film Indonesia dua kali (Sore), pertama kalinya hampir telat Whoosh sampai lari-lari, pertama kalinya PP Jakarta demi interview, pertama kalinya Nyarita menyelenggarakan workshop berskala besar bersama Lingkar Sastra Utara (kudos everyone!), pertama kalinya mendapatkan pekerjaan full-time, pertama kalinya nyetir ke Soreang cuma demi sate, dan pertama kalinya benar-benar relokasi ke Jakarta.

Lalu, Agustus mengetuk dengan pertama kalinya mengantar temanku Azhar ke bandara hanya untuk gagal berangkat karena masalah visa (sekarang, sih, udah aman nyaman di Jerman), pertama kalinya lari ke CFD Sudirman, pertama kalinya menyelamatkan barang tertinggal di rest area melalui koneksi DKM, pertama kalinya jalan-jalan sendiri di Purwakarta, pertama kalinya lari 70 kali keliling Alun-Alun Ujungberung demi HM, pertama kalinya beli bunga bersama Neng, pertama kalinya ngisi acara di Istiqlal, pertama kalinya ngisi acara dari kereta bandara, pertama kalinya naik LRT Kelapa Gading, dan… PERTAMA KALINYA KE INDIA HAHAHA. Jujur, pengembaraan yang satu ini agak mencengangkan karena tak ada sama sekali dalam bayangan hidupku. But hey, who knows where life will take you?

Di India-lah pertama kalinya aku melihat ketimpangan yang next level, pertama kalinya 5k dikejar anjing-anjing pulau bersama Kak Muthi, pertama kalinya berjejaring secara setara dengan buruh riset internasional lainnya, pertama kalinya memenangkan lomba inovasi bersama tim internasional, pertama kalinya merasakan Indomie Mesir, dan pertama kalinya ke Agra dan Taj Mahal. Selain mengafirmasi value objektifku di lini pekerjaan ini dan pilihanku untuk bisa ada di sini in the first place, perjalanan ke India ultimately mengajariku untuk lebih bersyukur atas rencana dari Sang Khaliq. Read more here and here.

Kemudian, datanglah September dengan pertama kalinya mendaki Gunung Slamet, pertama kalinya aku menjadi water boy sekaligus ‘chef gunung’ tunggal (yang lain cupu sih hahaha), pertama kalinya betul-betul terjun ke lapangan (berkali-kali pula) sebagai perwakilan kantorku, pertama kalinya keracunan makanan di Jakarta sampai muntah-muntah, pertama kalinya gym membership berbayar (selama ini di Saraga anak dosen mah gratis haha), pertama kalinya ditanya beli kodok di mana???, pertama kalinya menonton Count of Monte Cristo (my fav book) dalam bentuk seri gara-gara si David anak UPenn, pertama kalinya melihat ITB UltraMarathon (cuma dateng halo-halo dan poto-poto), pertama kalinya bertemu Kak Roy en de genk di Jakarta, pertama kalinya mengedit footage dari Melaka, pertama kalinya men-judge suatu sparring debat MTQMN, dan pertama kalinya mengajak Argya menjadi ‘performative male Jakpus’.

Ketika kutengok kembali segala dokumentasi dari masa-masa ini, rupanya hal-hal berat yang menghantui cukup tertutupi dengan segala kejutan, kenangan, pertemuan, dan obrolan yang begitu menghangatkan. If anything, PR-ku bukan mencari angin-angin yang lebih segar — sepertinya itu datang dengan sendirinya. PR-ku adalah membaca angin dengan tepat, without clouding my judgment dengan pesimisme, keraguan, ataupun kepercayaan diri yang berlebih.

Who knows where life will take you?
Sold poems, now I’m a diplomat
Worked till late to pass the time, refused the caviars and wine
I must say, I am proud of who I am

Kabut

Press enter or click to view image in full size
Photo by Ricardo Gomez Angel on Unsplash

Selain angin, salah satu penghalang perjalanan barangkali adalah kabut. Kabut itu membingungkan: ia membuat yang dekat terlihat samar, dan yang jauh semakin hilang bentuk. Persepsi jarak segala macam pun jadi kacau karena kehilangan sense of dimension.

Aku banyak hidup dalam kabut di Q3 ini. Banyak keputusan yang belum jelas, niat yang belum murni, juga emosi yang campur aduk. Aku tak benar-benar seyakin itu dengan desain kehidupan yang baru kurancang ulang dan senantiasa teriterasi. Namun, rasa-rasanya kabut juga melatihku untuk percaya pada instrumen kecil yang kupunya untuk menjangkarkan kakiku pada realita.

Hal seperti rutinitas fisik-spiritual, doa yang mindful, catatan harian semampuku, menjadi amat berguna — bukan untuk menyingkirkan kabut — melainkan untuk bisa melangkah meski pandangan terbatas. Aku menjadi terbiasa dengan langkah yang lebih perlahan, hati-hati, dan deliberate.

Lalu, di tengah kabut, apa sih yang masih menyala terang mengantarkan arah langkah-langkahku? Untuk itu, kita bahas four burners (bridgingnya jago ye kan).

Press enter or click to view image in full size

Sepertinya, di Q3, kompor “Work” mengambil alih hidup. Sebenarnya, pekerjaan utamaku wajar-wajar saja dalam menggunakan waktuku, meski ternyata jauh lebih taxing secara energi dan tanggung jawab ketimbang waktu masih intern (sekarang mah ada meeting internasional di luar jam kerja haha). Yang lebih melelahkan adalah kecenderunganku untuk mengiyakan segala hal yang sifatnya side, yang selalu saja menumpuk setiap aku melakukan pengembaraan (Malaysia-Singapura, India, Slamet, etc.) dan membuat overwhelmed. Aku mengajar, aku melatih debat, aku mengurus komunitas Nyarita dan EA, aku mengurus fotografi di Jep.red, aku mengisi materi di segala macam acara, aku mengambil dua course MicroMasters online, aku mengurus mentee, belum lagi hal-hal lain yang membengkak dan menyisakan sedikit sekali ruang lain. Itulah yang melahirkan refleksi semacam tulisan Tas Punggung, yang masih cukup menjadi PR bagiku. Bisa jadi, selain saat aku jalan-jalan, kompor “Work” bahkan lebih terang dibanding Q2.

Selanjutnya, dibanding Q2 lalu, aku memberi fokus yang agak lebih ke “Health” dan agak lebih sedikit ke “Friends”. Sekarang, dengan gym membership baru, aku sedang on track menuju sistem olahraga yang lebih automated untuk diri sendiri, meski masih butuh effort untuk di-sustain. Aku juga menjadi lebih ngeh terhadap nutrisi diri dan berhenti memaksa puasa di saat-saat transisi karena manajemen energi seharusnya sudah memenuhi baseline aman dulu untuk bisa optimal mengerjakan kewajiban-kewajiban. Pendakian di Slamet juga menyadarkanku bahwa kakiku belum se-strong itu jadi aku harus lebih sering leg day hahaha. Waktu yang lebih dedicated untuk rutin di health ini (termasuk tidur lebih awal) jadi sedikit mengecilkan api kompor “Friends”. Beberapa group chat tidak begitu kuperhatikan sebagaimana dahulu, sosmed sengaja kubatasi penggunaannya menjadi 3 hari dalam sepekan demi mental health, beberapa ajakan kutolak, dan ada beberapa weekend yang memang betul-betul kuhabiskan sendiri — terlepas aku suka atau tidak. Yang penting, aku tetap amanah dan bisa di-reach out. Sepertinya ritme yang seperti ini akan lebih kuteruskan di triwulan baru ini.

Terakhir, kompor “Keluarga” sama saja seperti Q2 karena aku masih saja merantau — malah makin-makin :).

Bising

Press enter or click to view image in full size
Photo by Logan Voss on Unsplash

Kalau angin bisa menggerakkan, dan kabut bisa menutup, maka bising bisa lebih licik. Ia menyamar sebagai sesuatu yang penting. Di pasar yang ramai, sulit membedakan antara suara panggilan yang betul bernilai dengan sekadar riuh. Lalu, menyambut bising terus-menerus bisa membuat energi diri menjadi berantakan.

Aku sendiri sering tergoda untuk menambah kebisingan — beban pada tas pundakku— berkata sesuatu padahal lebih baik diam, membuka ‘tab’ baru padahal pikiranku sudah lelah, atau mengiyakan ini dan itu dan ini dan itu lagi dan lagi padahal sudah tahu ada baiknya menahan.

Selain itu, jika kuusir segala bising dan berusaha untuk benar-benar mengidentifikasi main threads yang sedang kupikirkan (seperti menyimpulkan clashes dalam debat), aku rasa ada berbagai tema yang cukup berulang:

  • The question of sincerity: Am I doing this for recognition or for the right reason?
  • Control vs surrender: Menyikapi berbagai pertanyaan mengenai masa depan.
  • Integrity of truth: Whether in data, writing, or speech, I fear misleading others.
  • The pressure of being responsible: As the sulung, as a leader, as a researcher, as a writer, as a persona —mengemban label itu berat.

Agar aku tak bias-bias amat memandang diri dengan lensa sendiri, aku juga sempat menyebarkan form feedback (seperti biasa) dan juga bertanya beberapa pertanyaan evaluasi ke beberapa rekan yang berinteraksi denganku selama Q3 ini. Kurang-lebih simpulan dari kesemuanya (courtesy of GPT-5) seperti ini:

Press enter or click to view image in full size

Lumayan mengharukan :)

On this note, untuk Q3 sepertinya 80:20-ku uniknya tak begitu berhubungan denganku. Kalau kupikir-pikir dengan jujur, sebetulnya 20% dari effort yang menghasilkan 80% dari results di triwulan ini justru adalah dengan meminta tolong. Meski energi yang kukeluarkan secara sengaja untuk “Friends” memang menjadi lebih sedikit, aku rasa di konteks makro yang melibatkan pekerjaan dan stabilitas/kesehatan diri, aku sangat tertolong dengan acts of mempercayakan hal-hal kepada orang lain.

Contohnya, aku meminta saran-saran dari Allan yang membentuk solo trip-ku. Atau, aku mengadu beberapa permasalahan logistik penerbangan ke Arsyad yang lalu menyelamatkanku. Juga, aku terbantu ketika bercurhat ke rombongan Mesir sewaktu transit di Delhi dan lalu dibantu oleh mereka. Apalagi, aku mempercayakan Nyarita untuk running secara hampir autopilot sewaktu aku tak bisa betul-betul present. Dan juga, ketika aku maju-mundur ingin menyelesaikan suatu hal dengan orang lain, aku temukan bahwa baiknya maju dulu ajah haha karena kita harus percaya bahwa mereka pun ingin the best out of all of this. Shout out khusus juga ke temanku Adel yang amat sangat membantu dengan mendengar berbagai celotehanku dan selalu penuh empati-afirmasi selama tiga bulan terakhir hahaha.

Sebagai seseorang yang cenderung ingin segala beres sendiri, lumayan melegakan — di masa-masa penuh angin, kabut, dan bising ini — bahwa aku bisa mempercayakan small things that go a looong way kepada the kind people around me. Tentu, bukan dalam rangka memanfaatkan, tetapi menghormati kepedulian mereka dengan kepercayaan, dan dengan penuh itikad untuk bisa memenuhi peran tersebut bagi mereka juga.

Phew, that was a mouthful! Meski tulisan rasanya jauh lebih berantakan dibanding Q3-Q3 sebelumnya, barangkali itu justru merefleksikan dinamika kehidupanku yang sekarang hahaha. Alih-alih taman bunga ala flourish era, tahun ini terasa lebih seperti pasar — sesak, berisik, kasar, dan hidup. Para toko membentang luas, setiap pedagang bersorak dan memanggil. Pertanyaannya bukanlah mengenai apa yang harus ditumbuhkan, melainkan apa yang harus dibawa, cara menimbang barang dengan adil, dan kapan harus diam di tengah gaduh.

All in all, bukankah itu belajar survival dan kemerdekaan yang sebenar-benarnya?

--

--

Rakean Radya Al Barra
Rakean Radya Al Barra

Written by Rakean Radya Al Barra

menuju murni; berbagi tiap jumat pukul 7 WIB