Sitemap

Siluman Berpita Merah

Cerita Pendek

5 min readJul 11, 2025

--

Press enter or click to view image in full size
Photo by JosephHershMedia on Unsplash

Hari itulah hari musim panas klasik dengan malam yang seolah merangkak pincang setelah ditembak. Atau barangkali bersembunyi malu-malu (layaknya setelah ditembak juga, tapi dalam artian lain).

Entahlah.

Selagi malam masih meringkuk, kabut tipis mengambil alih langit yang tak kunjung gelap, menyapu lembah pasir seolah dapat menghapus segala jejak makhluk yang menghampirinya — mau manusia, hewan gembala, ataupun waktu.

Lembah Rande namanya. Tak tersembunyi, tetapi seolah menaikkan dagunya angkuh seraya menantang pendatang untuk jelajahi kerikil-kerikilnya. Tak terpelosok di sudut dunia, tetapi peta pun enggan menyebut namanya.

Di sana, seekor kuda jingga muda menapaki pasir panas, asap terpancar bergelombang dari tubuh besarnya. Di atasnya bertengger sesosok berselimutkan mantel cokelat tua. Senyap pada matanya terlampau terlalu dalam untuk dipandang, apalagi untuk disapa. Bot jingganya yang bermotif asing tetap dijaga bersih kendati debu dan pasir penuhi hidupnya.

Orang biasa takkan mengenalnya, meski jelas akan sulit lupa perangainya. Ia lebih dikenal oleh para petualang tulen. Muncullah ia layaknya mitos dalam obrolan para regular di bar-bar tua pinggir jalan, gosip para pekerja kandang kuda di sela-sela pemberian makan, dan cerita-cerita untuk menakut-nakuti para penggembala muda agar tak merantau sembarangan. Mereka menyebutnya Siluman Rande.

Ia muncul dan lenyap seperti angin musiman. Kedatangannya selalu saja meledakkan bisikan, “Dia mengincar kita?” — entah apa mengincar dan entah siapa kita, tak ada yang benar-benar paham.

Sebetulnya, sang Siluman tak pernah berbuat kerusakan di lembah. Para kuda dan makhluk gurun pun tak tampak takut kepadanya. Hanya saja, figurnya itu sudah terlanjur membuat udara sekitar begitu berat. Pula ia tak segan menghabisi para insan gila yang berani memprovokasinya— tak dengan membunuhnya, melainkan dengan tepat menembak telunjuk kanannya. Selain karena menjadikan mereka koboi yang signifikan lebih tak berguna, perihal tembak-menembak telunjuk ini mengisyaratkan bahwa sang Siluman bisa saja menerbangkan nyawa-nyawa itu sekehendaknya. Dan itu jauh lebih menakutkan.

Para koboi tanpa telunjuk biasanya sama sekali berhenti gegabah — barangkali suatu bentuk taubat karena telah mengusik sang Siluman. Bahkan mereka cenderung menjadi pendiam, seolah harga diri mereka di mata gurun telah jatuh. Tak salah. Toh mata sang Siluman tak ubahnya dengan mata gurun itu sendiri. Paling-paling, mereka akan bercerita ke sanak-saudaranya tentang pelajaran berharga untuk tidak berbuat semena-mena di Lembah Rande. Bertahun lamanya, dengan puluhan koboi tanpa telunjuk sebagai penutur ulung ceritanya, tentu saja kedatangan sang Siluman selalu saja membuat koboi lain lari terbirit-birit saat tampak topinya.

Kali ini di Lembah Rande tak berbeda, tentu saja. Dengan hentakan kaki kudanya mendekati blok toko, kumpulan suara yang tak berani untuk tindak lanjut terhadap penasaran mulai memenuhi sudut-sudut sesak dekat jendela-jendela. Pandangannya menyapu jalanan lebar itu, seolah mencari sesuatu. Selalu seperti ini. Setidaknya sekali setiap musim. Sesuatu itu sepertinya tak pernah ia temui, karena begitu selesai memandang peradaban, ia sudah menghilang sekejap ke arah selatan.

Jika kau perhatikan baik-baik, topi koboi tuanya sedikit saja condong ke kanan, mengangkat sebuah pita merah yang tergantung di sisi kirinya. Merah menyala itu melambai dengan tiap lintasan angin.

Pita itu bukan aksesoris. Bukan hiasan. Pita itu semacam janji.

Bukan janji pada pemberinya, toh mereka telah saling menyerahkan pada debu jalanan dan angin berpasir. Ialah janji yang lain dan yang lebih besar.

Dahulu kala, pita itu telah membungkus rapi suatu kotak hadiah berisikan jam tangan. Jemari jamnya terhenti dan tak bisa digerakkan. Maka Sang Siluman Rande, setidaknya ketika ia masih punya nama, berguyon bahwa jam tangan rusak sama saja fungsinya dengan pita merah — aksesoris hampa belaka. Lalu, dengan pura-pura kesal, ia mengakui akan memakai pita pembungkusnya saja.

Nyatanya, kini ia pakai terus. Dari tangan ke tas ke topi. Pita itu mengingatkannya akan suara pemberinya, “Jangan berhenti, ya. Tapi jangan lupa berhenti juga.”

Kata-kata paradoksikal itu berulang-ulang dalam jeruji benaknya, memakai suara-suara yang berbeda bak berganti baju.

Ibu, “Jangan berhenti, ya. Tapi jangan lupa berhenti juga.”

Adik, “Jangan berhenti, ya. Tapi jangan lupa berhenti juga.”

Gadis pemberi pita, “Jangan berhenti, ya. Tapi jangan lupa berhenti juga.”

Bahkan dirinya sendiri dalam wujud anak kecil, “Jangan berhenti, ya. Tapi jangan lupa berhenti juga.”

Baginya sudah samar kepada siapakah ia telah terlanjur mengiyakan janji tersebut.

Yang ia ingat, pada suatu pekan yang amat panas, jatah hari-harinya yang menyenangkan walau tak bermakna tetiba habis. Yang ia ingat, ladang-ladang terbakar dan para hewan gembala berlari lepas menuju kemerdekaan semu. Yang ia ingat, kedua kelompok besar itu memperebutkan sesuatu di Lembah. Yang ia ingat, kelompok ketiga — para penduduk asli — sudah angkat tangan pasrah. Yang ia ingat, sang kepala suku mengenal betul pita pemberian cucu perempuannya pada topi pria asing, dan meminta tolong kepadanya tepat sebelum otaknya diledakkan peluru. Yang ia ingat, tak ada penduduk asli lembah yang selamat. Yang ia ingat, kedua kelompok besar itu tak menemukan apa yang mereka cari.

Yang ia ingat, ia harus menyelesaikan apa yang gagal ia selesaikan.

Hilang sudah semua konsep asing seperti rumah dan pulang bersama uap air di panasnya hari. Pekan itu begitu panas. Barangkali, karena saking teriknya pukulan mentari, jam tangan yang waktunya membeku pada pukul 13.07 jua tetiba menyala kembali.

Entah berapa tahun telah berlalu semenjak seorang pria yang memiliki nama mengutuk dirinya menjadi Siluman Rande.

Kini, tiap harinya dipakai menyebrangi gurun keruh dengan mata menyipit. Selama penjagaannya, Lembah betul-betul telah menua. Gedung-gedung berubah jadi reruntuhan, desa ditelan bisu, dan remaja gembala tetiba menjadi ayah dan ibu.

Tapi dirinya tetap.

Waktu hanya melaluinya, bukan menentukannya.

Namun, mau se-Siluman apakah dirinya, tetap saja ketika malam menjatuhkan bintang ke pasir datar, dan api unggun tinggal bara kecil, tangannya tak kuasa berhenti getar. Sebelum terlelap dalam persembunyian di entah sudut lembah yang keberapa, ia melepas pita merah itu dari topinya, menggenggamnya seperti seseorang yang menggenggam tangan dari masa lalu, lalu meletakkannya kembali ke dalam tas kecil kulitnya, seperti selalu.

Pada musim panas baru itu, dua jam sebelum fajar, ia sudah mengembara kembali, mencari dua rombongan berisikan wajah-wajah para perusak yang telah terpatri permanen dalam ingatannya. Ia tahu mereka masih mendatangi lembah. Ia tahu tugasnya belum usai.

“Jangan berhenti, ya.”

Ia dan kuda jingga itu mengangguk pelan ke dalam gelap, lalu melanjutkan langkah. Dari atas bukit batu, terlihat sebuah barisan obor bergerak di kejauhan. Belasan gerbong barang raksasa melaju, masing-masing ditarik tiga ekor kuda. Seolah tak peduli pada gelapnya dini hari, mata sang Siluman tahu betul benderanya. Akhirnya. Bersiaplah ia karena tugasnya belum usai.

“Tapi jangan lupa berhenti juga.”

Biasanya, ia dan kuda jingga itu akan mengangguk, lalu mundur kembali ke dalam kabut.

Kali ini mereka seolah tak dengar dan menuruni bukit.

Semenjak saat itu, baik sang Siluman maupun kedua kelompok perampok tak pernah terlihat lagi di Lembah Rande.

Namun, masih saja ada yang melaporkan sebuah kuda jingga menua dan tak berpengendara yang berlari seolah kerasukan di padang pasir itu. Pada pelananya terikat sebuah topi berpita merah.

--

--

Rakean Radya Al Barra
Rakean Radya Al Barra

Written by Rakean Radya Al Barra

menuju murni; berbagi tiap jumat pukul 7 WIB