Tas Punggung dan Beban Pundak Lainnya
Sejak kecil, aku terbiasa membopong ransel berat dalam keseharianku. Kedua strap itu kerap duduk nyaman pada pundak, diajak menyusuri dunia Bandung-ku yang luas penuh misteri. Terkadang pula, tas yang dasarnya menonjol-nonjol akibat beragam isinya itu terlelap nikmat dalam pangkuanku di angkot pink atau TMP Sarijadi-Cicaheum, lalu lulus ke dek sepeda motor dan kursi mobil depan kiri. Belakangan, ia menjadi pengunjung setia bagasi travel, JPO, dan lift kantor.
Dari laptop dan pasukan perintilannya, armada alat kebersihan, barisan keperluan dokumentasi, satu-dua buku — segala yang bisa jadi dibutuhkan, biasanya aku bawa. Misalnya segala jenis tisu, hand sanitizer, ejector pin SIM, atau kertas untuk corat-coret terkadang menjadi penyelamat, diiringi kata-kata, “aku bawa, kok!”
Namun, rupanya kebiasaan tersebut harus sedikit dibenahi.
Street Smart or just Dominating?
Sebelum bahas tas punggung, mari kita bercerita mengenai perjalanan (yang kerap menghadirkan tas punggung juga, sih).
Katanya perjalanan menunjukkan kepribadian sejati dari pejalannya. Bahkan di satu cerita di masa kekhalifahan Umar bin Khattab, safar disamakan dengan berbisnis dan ber-amanah sebagai hal yang menjadi parameter sifat asli seseorang.
Entah ya, untuk perjalanan pada umumnya, aku sejatinya seperti apa, tetapi yang jelas kalau soal jalan-jalan aku rela luangkan banyak energi ekstra.
Maka dari itu, perjalanan ke New York City pada tahun 2022 menjadi hal menarik. Itu adalah safar jauh pertamaku bersama orang-orang yang belum begitu kenal aku atau punya banyak ekspektasi padaku. Bisa jadi “siapa aku” di perjalanan tersebut adalah aku yang lebih murni.
Temuanku: aku secara natural punya ritme cepat, tegas, dan… egois. Sebetulnya roadtrip tersebut awalnya adalah perjalanan pribadi, jadi terlepas dari teman-teman se-IISMA yang lain ikut atau tidak, aku akan tetap berangkat. Aku mengumumkan hal ini ke grup dan menggalang sekitar 10 orang untuk ikut bersamaku, lalu menjadi sutradaranya. Segala detail kuurus, kupastikan aman, dan kuumumkan. Anak acara sekali. Demi memaksimalkan waktu di NYC, aku mendorong semuanya untuk ikut bus yang jam 6 pagi, yang termasuk pagiii sekali di Amerika. Pagi itu, aku mengetok setiap pintu, memastikan semuanya bangun, dan memesan Uber ke tempat bus di ujung kota yang sudah kusurvei sebelumnya. Di NYC pun, arahan dan pace-ku membentuk ritme jalan.
Aku temui hal tersebut berulang-ulang pada berbagai perjalanan lainnya, semakin membulatkan identitasku sebagai inisiator, alias orang menyebalkan di group chat yang memaksa kepatuhan rencana perjalanan agar sesuai keidealannya :p.
Olahraga Punggung
Sepertinya, persoalan ransel merefleksikan suatu kanvas kepribadian yang kurang-lebih sama dengan yang kutemukan di berbagai perjalanan.
Aku ingin mengatur.
Sedari kecil, sih, ibuku memang sering mengomentari bahwa aku terlalu bossy ke adik-adikku, hahaha. Hanya saja, ketika mendewasa dan ke-bossy-an menjadi tidak socially acceptable, muncullah berbagai cara lainku untuk bisa mengatur duniaku menjadi apa yang aku anggap terbaik.
Salah satu ejawantahnya adalah tas punggung. Jika aku mengoleksi dan membawa segala macam hal yang bisa saja diperlukan, I am future-proofing myself. Dengan tas punggungku, aku menentang ketidakpastian dan mencoba mengaturnya. Bahkan, pada suatu ketika saat SMP, ini agak lebay sampai-sampai aku tak pergi tanpa membawa sebuah pisau lipat hahaha.
Sepertinya perlu ada jenis orang di dunia ini yang begitu. Teringat anekdot bahwa Tom Lembong hobi membawa segala macam di tasnya sampai disebut membawa kantong Doraemon oleh menteri-menteri lainnya. Hal tersebut diafirmasi oleh seseorang di Twitter (sayangnya aku tidak save) yang bercerita pernah kesulitan menyambungkan laptop dengan projektor, tetapi akhirnya diselamatkan oleh Pak Tom yang entah kenapa membawa adaptor yang pas.
Bisa jadi positif, memang, tetapi segala yang berlebihan pasti tak baik. Tas punggung bisa saja menjadi berat, misalnya. Terkadang, orang-orang dekatku bercanda bahwa kebiasaan membawa-bawa tas berat inilah yang membuatku tak kunjung meninggi lagi hahaha. Terkadang pula, bisa jadi malah kekurangan space ketika hal yang betul-betul penting tiba-tiba muncul. Sementara itu, sang tas malah dipenuhi dengan buku-buku tak terpakai, dan sepanjang jalan entah tetiba mengumpulkan brosur dan stiker dan snack gratis dan hal-hal kurang penting lainnya.
Lalu, bagaimana dengan niatnya? Betulkah, meredam ketidakpastian? Jaga-jaga? Membantu orang? Atau hanya menjadi performative male yang senang menjadi juru selamat? Atau hanya menjadi hamba yang terobsesi mempertegas keidealannya?
Beres-Beres Tas
Suatu saat, sang pembawa tas punggung harus menyeleksi: barang-barang apa saja yang seharusnya ia persiapkan? Apa saja temuan di jalanan yang tepat untuk dibawa serta? Apa saja berian yang baiknya diterima? Beban manakah yang paling layak ditanggung?
Kukira, sang pemakai tas punggung harus lebih humble. Dia kira dia hebat bisa menanggung semuanya? Bisa memusuhi ketidakpastian?
Kukira, sang pemakai tas punggung harus lebih honest. Betulkah ia bawa itu demi maslahat orang lain? Tak lelahkah sang tas punggung terus-menerus menjadi properti sandiwara?
Kukira, sang pemakai tas punggung harus lebih efficient. Untuk apa, sih, membawa hal-hal tak terpakai? Sampai kapan mau menukar energi untuk tiap barang tambahan yang sebetulnya tak begitu ikhlas dibawa?
Ia sendiri yang akan rasakan manfaatnya. Terlebih ketika orang berdatangan untuk menitipkan barang pada tasnya sejenak. Terbiasa ia senyumi mereka dengan jempol dan tatapan aman saja, dan lanjut mendaki gunung di paling depan atau paling belakang barisan. Lalu, bloodshot eyes dan dark circles dan gritted smile pada dirinya menggunakan seluruh jiwanya agar berusaha tak palsu ketika bilang, “Alhamdulillah ya, ada aja barang menarik berikutnya dan berikutnya yang bisa dimasukkan ke tasku.” Ia lalu tergila-gila karena tak mau menyalahkan diri sendiri atas tasnya yang kian menggelembung, padahal orang lain hanya polos menodong hal berikutnya dan berikutnya dan berikutnya karena ia selalu citrakan bahwa ia mampu mengatur semestanya.
Maka dari itu, ia perlu beres-beres tas.
Ya, ia betul-betul perlu beres-beres tas.
amanah yang banyak di pundak yang lesu adalah dzalim.
ada yang tak beres dengan orang yang urusannya tak beres-beres.
wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastata’t
